Sastra Era Meiji: Saat Budaya Barat Bertemu Gelombang Tradisi Jepang dan Lahir Modernitas

Sastra Era Meiji: Saat Budaya Barat Bertemu Gelombang Tradisi Jepang dan Lahir Modernitas
Sastra Era Meiji: Saat Budaya Barat Bertemu Gelombang Tradisi Jepang dan Lahir Modernitas (Sumber: OER Project)


ANIMEBLOG.BIZ.ID - Ketika Kaisar Meiji naik takhta dan Jepang memasuki periode Meiji pada 1868, perubahan yang terjadi bukan sekadar pergantian pemerintahan. Jepang bergerak cepat meninggalkan struktur feodal Tokugawa dan membangun negara modern yang ingin berdiri sejajar dengan kekuatan Barat. 

Kereta api, sekolah modern, industri, militer baru, surat kabar, teknologi percetakan, serta gagasan politik dari Eropa masuk dalam waktu relatif singkat. Perubahan tersebut juga mengguncang dunia sastra.

Sastra Jepang kemudian menghadapi pertanyaan besar: apakah modernisasi berarti harus meninggalkan tradisi? Para pengarang Meiji justru menemukan berbagai jawaban. Mereka membaca dan menerjemahkan sastra Eropa, mempelajari realisme dan naturalisme, bereksperimen dengan bahasa sehari-hari, tetapi pada saat yang sama tetap membawa warisan estetika Jepang dan sastra klasik. 

Dari benturan itulah lahir fondasi sastra Jepang modern yang kelak melahirkan nama-nama seperti Tsubouchi Shōyō, Futabatei Shimei, Mori Ōgai, Shimazaki Tōson, Tayama Katai, dan Natsume Sōseki.

Apa yang Dimaksud dengan Sastra Era Meiji?

Secara historis, Era Meiji berlangsung dari 1868 hingga 1912. Dalam sejarah sastra Jepang, periode tersebut sangat penting karena menjadi masa transisi dari berbagai bentuk sastra zaman Edo menuju konsep kesusastraan modern. 

National Diet Library Jepang menjelaskan bahwa Tsubouchi Shōyō menulis Shōsetsu Shinzui, yang dipandang sebagai risalah teori sastra modern Jepang pertama yang benar-benar komprehensif. Shōyō mendorong novel agar menggambarkan psikologi manusia secara lebih setia dan mengembangkan realisme yang berbeda dari gesaku zaman Edo maupun novel politik yang populer pada awal Meiji.

Dilansir dari Muhamadqli.com, sastra Meiji adalah kesusastraan Jepang yang berkembang pada masa transformasi Meiji 1868–1912, ketika tradisi kesusastraan Jepang berhadapan, berdialog, dan bercampur dengan pemikiran, teknik penulisan, serta konsep sastra modern yang datang dari Barat. Karena itu, sastra Meiji tidak tepat dipahami hanya sebagai “sastra Jepang yang kebarat-baratan”. Periode ini justru menarik karena para pengarang harus mencari cara menjadi modern tanpa sepenuhnya kehilangan hubungan dengan kebudayaan Jepang.

Restorasi Meiji Mengubah Masyarakat sekaligus Cara Orang Jepang Menulis

Restorasi Meiji membawa Jepang ke dalam modernisasi yang sangat cepat. Sistem politik, pendidikan, ekonomi, militer, dan kehidupan sosial mengalami restrukturisasi. Bersamaan dengan itu, pengetahuan Barat mengalir melalui buku dan penerjemahan. 

National Diet Library mencatat bahwa pada awal Meiji, karya terjemahan dari Barat bahkan sering berfungsi sebagai “alat” untuk mengetahui peradaban, kebiasaan, dan pengetahuan Barat. Terjemahan ketika itu tidak selalu mengikuti teks asli secara ketat; penerjemah dapat melakukan adaptasi bebas yang dikenal sebagai gōketsu-yaku.

Dampaknya terhadap sastra sangat besar. Pengarang Jepang berhadapan dengan bentuk novel Eropa yang memberikan perhatian kepada perkembangan psikologis individu, konflik batin, kehidupan sehari-hari, dan realitas masyarakat modern. Pertemuan tersebut berlangsung pada saat masyarakat Jepang sendiri sedang mengalami kegelisahan identitas. 

Tradisi lama belum sepenuhnya hilang, sedangkan modernitas baru belum sepenuhnya mapan. Ketegangan semacam inilah yang kemudian menjadi bahan sastra. Tokoh-tokoh dalam novel tidak harus menjadi pahlawan sempurna. Mereka dapat menjadi mahasiswa yang kebingungan, intelektual kesepian, pegawai yang frustrasi, atau manusia biasa yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman.

Tsubouchi Shōyō dan Revolusi Cara Memandang Novel

Salah satu tokoh penting dalam pembentukan sastra Jepang modern adalah Tsubouchi Shōyō. Melalui Shōsetsu Shinzui yang diterbitkan pada 1885–1886, ia memperkenalkan pemikiran mengenai novel yang memberikan perhatian besar kepada psikologi dan penggambaran manusia. 

National Diet Library menyebut karya tersebut sebagai risalah teoretis sastra modern pertama di Jepang. Shōyō berusaha membuat novel bergerak menjauh dari cerita populer zaman Edo dan kecenderungan menjadikan karya fiksi terutama sebagai kendaraan moral atau politik.

Perubahan tersebut tampak sederhana jika dilihat sekarang, tetapi pada zamannya sangat penting. Novel mulai dipahami sebagai medium yang dapat mengamati manusia secara kompleks. Tokoh tidak harus selalu baik atau buruk. Pengarang dapat memperlihatkan keraguan, kontradiksi, kelemahan, kecemasan, dan keinginan tersembunyi. 

Pengaruh sastra Eropa terlihat dalam kecenderungan menuju realisme dan psikologi tersebut, tetapi hasil akhirnya tetap berkembang dalam konteks Jepang. Bahkan karya Shōyō masih memperlihatkan jejak gaya gesaku Edo. Di sinilah ciri transisi Meiji terlihat dengan jelas: yang lama tidak langsung lenyap ketika yang baru datang.

Futabatei Shimei dan Lahirnya Novel Jepang Modern

Jika Shōyō membantu membangun teori, Futabatei Shimei memperlihatkan kemungkinan penerapannya secara lebih radikal. Novel Ukigumo atau Drifting Clouds, yang mulai diterbitkan pada 1887, sering dianggap sebagai salah satu tonggak kelahiran novel Jepang modern. 

National Diet Library bahkan menyebutnya sebagai pelopor novel modern Jepang. Futabatei berusaha menggunakan gaya yang lebih dekat dengan bahasa percakapan agar realitas dan psikologi tokoh dapat disampaikan dengan lebih alami.

Futabatei juga memiliki hubungan penting dengan sastra Rusia. Ia mempelajari bahasa Rusia dan menerjemahkan karya Ivan Turgenev seperti Aibiki dan Meguriai pada 1888. Dari sinilah terlihat bahwa modernisasi sastra Jepang tidak hanya berarti meniru Inggris atau Prancis. 

Pengarang Meiji membaca berbagai tradisi Eropa, memilih unsur yang dianggap relevan, lalu mengolahnya kembali. Novel modern Jepang akhirnya lahir melalui proses penerjemahan, eksperimen bahasa, kritik terhadap tradisi sebelumnya, dan pencarian bentuk yang mampu menjelaskan manusia Jepang yang sedang memasuki kehidupan modern.

Genbun Itchi: Ketika Bahasa Tulisan Mulai Mendekati Bahasa Percakapan

Salah satu revolusi terbesar Era Meiji justru terjadi pada bahasa. Sebelum modernisasi, terdapat jarak cukup besar antara bahasa tulisan dan bahasa yang digunakan masyarakat dalam percakapan sehari-hari. Gerakan Genbun Itchi berusaha mendekatkan keduanya. 

Futabatei Shimei menjadi salah satu tokoh penting dalam perkembangan ini melalui Ukigumo. National Diet Library mencatat bahwa ia memilih gaya kolokial untuk mencapai novel yang lebih realistis, meskipun genbun itchi baru menjadi standar sastra Jepang beberapa waktu kemudian.

Perubahan tersebut mempunyai konsekuensi lebih besar daripada sekadar gaya. Ketika bahasa sastra semakin dekat dengan percakapan, penulis memperoleh instrumen baru untuk menggambarkan pikiran dan kehidupan individu. Dialog terasa lebih hidup, sementara narasi dapat bergerak lebih dekat kepada kesadaran tokoh. 

Kajian mengenai Genbun Itchi juga menghubungkannya dengan usaha meningkatkan kemampuan literasi dan membuat publikasi seperti surat kabar lebih mudah diakses oleh pembaca yang luas. Dengan demikian, modernisasi sastra berjalan bersama modernisasi masyarakat pembaca.

Mori Ōgai Memperlihatkan Kompleksitas Pertemuan Jepang dan Eropa

Mori Ōgai memberikan contoh lain mengenai hubungan kompleks antara Jepang dan Barat. Ōgai pernah belajar di Jerman dan kemudian menjadi salah satu intelektual serta pengarang penting Jepang modern. 

Karya seperti Maihime atau The Dancing Girl memperlihatkan perjumpaan seorang Jepang dengan kehidupan Eropa, sekaligus konflik antara cinta, kewajiban, identitas pribadi, dan tuntutan sosial. Menariknya, meskipun tema modern dan Eropa sangat terasa, gaya awal Ōgai belum sepenuhnya mengikuti bahasa percakapan modern.

National Diet Library mencatat bahwa Maihime ditulis dengan gaya sastra yang kaya akan ekspresi Sino-Jepang. Fakta ini penting karena menunjukkan bahwa westernisasi isi tidak otomatis berarti westernisasi total dalam bentuk bahasa. 

Seorang pengarang dapat membicarakan Berlin, modernitas, individualitas, dan pengalaman lintas budaya sambil tetap menggunakan sumber daya bahasa sastra Jepang yang telah berkembang sebelumnya. Sastra Meiji dengan demikian bukan proses sederhana mengganti Jepang dengan Barat, melainkan laboratorium tempat berbagai bentuk lama dan baru diuji secara bersamaan.

Naturalisme Membawa Realitas Kehidupan ke Dalam Sastra

Memasuki tahun-tahun akhir Meiji, naturalisme Jepang berkembang menjadi kekuatan penting. Pengarang seperti Shimazaki Tōson dan Tayama Katai berusaha menggambarkan realitas kehidupan dengan keterusterangan yang lebih besar. 

National Diet Library menjelaskan bahwa ketika gaya genbun itchi semakin umum pada awal 1900-an, Shimazaki Tōson, Tayama Katai, Masamune Hakuchō, dan Tokuda Shūsei menghasilkan karya naturalistik penting yang berusaha mengungkap penderitaan manusia modern.

Namun, naturalisme Jepang tidak sekadar menyalin Émile Zola atau naturalisme Eropa. Setelah masuk ke Jepang, gagasan tersebut beradaptasi dengan persoalan masyarakat setempat dan berkembang menuju kecenderungan autobiografis yang kelak berhubungan dengan tradisi shishōsetsu atau I-novel. 

Kehidupan pribadi, kegagalan, hubungan seksual, kemiskinan, konflik keluarga, dan kelemahan manusia semakin layak dijadikan sastra. Modernitas dengan demikian tidak hanya hadir melalui kereta, gedung, atau pakaian Barat. Modernitas juga muncul ketika manusia mulai melihat dirinya sendiri sebagai individu yang mempunyai dunia batin untuk diperiksa.

Natsume Sōseki Tidak Sekadar Merayakan Modernisasi Barat

Tidak ada pembicaraan tentang sastra Meiji yang lengkap tanpa Natsume Sōseki. Ia menguasai sastra Inggris sekaligus memiliki pengetahuan kuat mengenai sastra klasik Tiongkok. Kehidupannya hampir berimpitan dengan Era Meiji, dan karya-karyanya merekam banyak kontradiksi modernisasi Jepang. 

Novel awal seperti I Am a Cat dan Botchan menggunakan humor dan satire, sedangkan karya-karya berikutnya semakin intens membahas kesepian, individualisme, hubungan manusia, dan kegelisahan kehidupan modern.

Yang menarik, Sōseki tidak menerima modernisasi Barat tanpa kritik. Dalam ceramah terkenalnya pada 1911 mengenai perkembangan Jepang modern, ia mengkritik modernisasi yang menurutnya memiliki sifat dangkal atau berasal dari tekanan eksternal. Pengalamannya di London juga memperlihatkan ketegangan psikologis akibat perjumpaan dengan Barat. 

Bahkan penelitian mengenai perjalanan awal kepengarangan menunjukkan adanya pengaruh novel Eropa kontemporer. Karena itu, Sōseki menjadi contoh sempurna pengarang Meiji: mempelajari Barat secara mendalam, tetapi justru menggunakan pengetahuan tersebut untuk mempertanyakan harga yang harus dibayar Jepang ketika menjadi modern.

Tradisi Jepang Tidak Hilang ketika Barat Datang

Gambaran Meiji sebagai masa ketika tradisi Jepang tiba-tiba digantikan oleh budaya Barat terlalu sederhana. Modernisasi memang mengubah pakaian, pendidikan, arsitektur, teknologi, bahasa, dan selera budaya. Namun, praktik lama tetap bertahan. 

National Diet Library memberikan contoh menarik dari kehidupan sehari-hari: meskipun pemerintah mendorong westernisasi dan pada 1873 diumumkan bahwa Permaisuri serta Ibu Suri meninggalkan praktik ohaguro atau menghitamkan gigi, kebiasaan tersebut masih bertahan di masyarakat bahkan sampai pertengahan Meiji.

Sastra mengalami dinamika serupa. Bentuk baru muncul tanpa langsung menghapus yang lama. Mori Ōgai menggunakan bahasa sastra dengan unsur Sino-Jepang, sementara Ozaki Kōyō masih menulis dengan gaya yang mengingatkan pada Ihara Saikaku. 

Pada saat yang sama, Futabatei bereksperimen dengan bahasa percakapan dan Shōyō mempromosikan realisme psikologis. Hasilnya bukan pergantian budaya yang rapi, tetapi tumpang tindih. Justru dari ketidakteraturan itulah sastra modern Jepang menemukan bentuknya.

Sastra Meiji adalah Cerita tentang Manusia yang Terjepit di Antara Dua Dunia

Salah satu tema yang paling terasa dalam sastra Meiji adalah manusia yang berada di tengah perubahan. Sistem nilai lama masih mempunyai pengaruh, tetapi individualisme modern mulai berkembang. 

Kewajiban terhadap keluarga dan masyarakat berhadapan dengan keinginan pribadi. Pendidikan Barat memberikan kemungkinan baru, tetapi juga melahirkan kegelisahan mengenai identitas. Kota berkembang, pekerjaan baru muncul, dan masyarakat semakin kompleks.

Karena itu, banyak tokoh sastra Meiji terasa surprisingly modern bahkan bagi pembaca abad ke-21. Mereka mengalami kesepian, kegagalan karier, kecanggungan sosial, cinta yang tidak selesai, konflik antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, dan perasaan tidak cocok dengan dunia yang berubah terlalu cepat. 

National Diet Library mencatat bahwa pengaruh sastra Eropa juga mendorong pengarang Meiji menggambarkan keadaan individual, dunia batin, serta keunikan tokoh melalui penampilan mereka. Sastra kemudian menjadi ruang untuk mempertanyakan bukan hanya “Jepang akan menjadi negara seperti apa?”, tetapi juga “manusia seperti apa yang lahir dari Jepang modern?”

Warisan Meiji Masih Terasa dalam Sastra Jepang Modern

Ketika Era Meiji berakhir pada 1912, revolusi kesusastraan yang berlangsung selama empat dekade telah mengubah fondasi sastra Jepang. Novel memperoleh kedudukan baru. Bahasa tulis semakin dekat dengan bahasa percakapan. 

Realisme dan naturalisme berkembang. Terjemahan mempertemukan Jepang dengan sastra Rusia, Inggris, Jerman, Prancis, dan tradisi lainnya. Pengarang semakin tertarik pada psikologi individu, kehidupan urban, keterasingan, dan konflik antara diri dan masyarakat.

National Diet Library menempatkan Shōsetsu Shinzui sebagai tonggak teori sastra modern dan Ukigumo sebagai pelopor novel Jepang modern; pada akhir Meiji, naturalisme serta karya Sōseki telah memperluas kemungkinan novel untuk menggambarkan penderitaan manusia modern. 

Dilansir dari Muhamadqli.com, sastra Meiji adalah ruang pertemuan antara modernitas Barat dan tradisi Jepang yang kemudian melahirkan identitas kesusastraan baru. Karena itulah Era Meiji begitu penting. Jepang tidak menjadi modern hanya dengan meniru Barat. Melalui sastra, para pengarangnya menyerap, mempertanyakan, menolak, mempertahankan, dan menciptakan ulang berbagai gagasan sampai lahir sesuatu yang khas Jepang, tetapi sekaligus menjadi bagian penting dari sastra dunia.

Post a Comment

0 Comments